Senin, 21 Maret 2016

SEJARAH KABUPATEN BELU

SEKILAS SEJARAH DAN NILAI BUDAYA KABUPATEN BELU

       Sesuai berbagai penelitian dan cerita sejarah daerah di Belu, manusia Belu pertama yang mendiami wilayah Belu adalah 'Suku Melus.' Orang Melus dikenal dengan sebutan Emafatuk oan ai oan (manusia penghuni batu dan kayu). Tipe manusia Melus adalah berpostur kuat, kekar orangnya dan bertubuh pendek.Selain para pendatang, yang menghuni Belu sebenarnya berasal dari Sina Mutin Malaka. Malaka sebagai tanah asal-usul pendatang di Belu yang berlayar menuju Timor melalui Larantuka. Khusus untuk para pendatang baru yang mendiami daerah Belu terdapat berbagai versi cerita. Kendati Demikian, intinya bahwa, ada kesamaan universal yang dapat ditarik dari semua informasi dan data. Ada cerita bahwa ada tiga orang bersaudara dari tanah Malaka yang datang dan tinggal di Belu, bercampur dengan suku asli Melus. Nama ketiga saudara itu menurut para tetua adat masing-masing daerah berlainan.
Dari makoan Fatuaruin menyebutnya Nekin Mataus (Likusen), Suku Mataus (Sonbay), dan Bara Mataus (Fatuaruin). Sedangkan Makoan asal Dirma menyebutnya Loro Sankoe (Debuluk, Welakar), Loro Banleo (Dirma, Sanleo) dan Loro Sonbay (Dawan). Namun menurut beberapa Makoan asal Besikama yang berasal dari Malaka ialah Wehali Nain, Wewiku Nain dan Haitimuk Naik. Bahwa para pendatang dari Malaka itu bergelar raja atau loro dan memiliki wilayah kekuasaan yang jelas dengan persekutuan yang akrab dan masyarakatnya. Kedatangan mereka ke tanah Malaka hanya untuk menjalin hubungan dagang antar daerah di bidang kayu cendana dan hubungan etnis keagamaan. Sedangkan dari semua pendatang di Belu itu pimpinan dipegang oleh Maromak Oan Liurai Nain di Belu bagian Selatan. Bahkan menurut para peneliti asing Maromak Oan kekuasaaannya juga merambah sampai sebahagian daerah Dawan (Insana dan Biboki). Dalam melaksanakan tugasnya di Belu, maromak Oan memiliki perpanjangan tangan yaitu Wewiku-Wehali dan Haitimuk Nain. Selain juga ada Fatuaruin, Sonabi dan Suai Kamanasa serta Loro Lakekun, Dirma, Fialaran, Maubara, Biboki dan Insana. Maromak Oan sendiri menetap di laran sebagai pusat kekuasaan kerajaan Wewiku-Wehali. Para pendatang di Belu tersebut, tidak membagi daerah Belu menjadi Selatan dan Utara sebagaimana yang terjadi sekarang. Menurut para sejarahwan, pembagian Belu menjadi Belu bagian selatan dan utara hanyalah merupakan strategi pemerintah jajahan Belanda untuk mempermudah sistem pengontrolan terhadap masyarakatnya.
Dalam keadaan pemerintahan adat tersebut muncullah siaran dari pemerintah raja- raja dengan apa yang disebutnya Zaman Keemasan Kerajaan. Apa yang kita catat dan dikenal dalam sejarah daerah Belu adalah adanya kerajaan Wewiku-Wehali (pusat kekuasaan seluruh Belu). Di Dawan ada kerajaan Sonbay yang berkuasa di daerah Mutis. Daerah Dawan termasuk Miamafo dan Dubay sekitar 40.000 jiwa masyarakatnya. Menurut penuturan para tetua adat dari Wewiku-Wehali, untuk mempermudah pengaturan sistem pemerintahan, Sang Maromak Oan mengirim para pembantunya ke seluruh Belu sebagai Loro dan Liurai.
       Tercatat nama-nama pemimpin besar yang dikirim dari Wewiku-Wehali seperti Loro Dirma, Loro Lakekun, Biboki Nain, Harneno dan Insana Nain serta Nenometan Anas dan Fialaran. Ada juga kerajaan Fialaran di Belu bagian Utara yang dipimpin Dasi Mau Bauk dengan kaki tangannya seperti Loro Bauho, Lakekun, Naitimu, Asumanu, Lasiolat dan Lidak.
Selain itu, ada juga nama seperti Dafala, manleten, Umaklaran Sorbau. Dalam perkembangan pemerintahannya muncul lagi tiga bersaudara yang ikut memerintah di Utara yaitu Tohe Nain, Maumutin dan Aitoon. Sesuai pemikiran sejarahwan Belu, perkawinan antara Loro Bauho dan Klusin yang dikenal dengan nama As Tanara membawahi Dasi Sanulu yang dikenal sampai sekarang ini yaitu Lasiolat, Asumanu, Lasaka, Dafala, Manukleten, Sobau, LIdak, Tohe Manumutin, dan Aitoon. Dalam berbagai penuturan di utara maupun di selatan terkenal dengan nama empat jalinan terkait. Di Belu Utara bagian Barat dikenal Umahat, Rin besi hat yaitu Dafala, Manuleten, Umaklaran Sorbau dibagian Timur ada Asumanu Tohe, Besikama-Lasaen, Umalor-Lawain. Dengan demikian rupanya keempat bersaudara yang satunya menjelma sebagai tak kelihatan itu yang menandai asal û usul pendatang di Belu membaur dengan penduduk asli Melus yang sudah lama punah. (sumber: Bappeda Kabupaten Belu) (pde@belukab.go.id/bersambung)

·         Bentuk
v  Perisai melambangkan alat perlindungan rakyat
v  Sisi Lima melambangkan Pancasila sebagai Dasar Negara
·         Warna Dasar. Warna dasar Lambang Daerah Kabupaten Belu adalah kuning, merah, hitam, coklat, hijau dan putih; diambil dari warna utama kain tenunan rakyat Kabupaten Belu, yang mempunyai arti :
ü  Kuning adalah keluhuran/keagungan/kejayaan
ü  Merah adalah keberanian
ü  Hitam adalah teguh abadi
ü  Coklat adalah ketabahan hati
ü  Hijau adalah kemakmuran
ü  Putih adalah kesucian
·         Arti Gambar Lambang
o   Bintang berwarna emas, melambangkan keagungan Tuhan Yang Maha Esa, yang memberi hidup dan menyinari tata kehidupan rakyat Kabupaten Belu pada khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya.
o   Pohon Beringin, yang melambangkan persatuan dan tempat berlindung terletak dibawah pita putih yang bertuliskan BELU, yang berarti Kabupaten Belu memelihara persatuan dan melindungi segenap rakyat Indonesia yang berada di Kabupaten Belu.
o   Bibliku/Tihar, merupakan alat kesenian tradisional Kabupaten Belu sebagai lambang pelestarian kebudayaan Belu dan Bangsa Indonesia
o   Surik Samara, kelewang tradisional yang bertuah sebagai lambang kesiapsiagaan rakyat Kabupaten Belu untuk memerangi musuh – musuh yang merusak persatuan dan mengganggu keamanan, ketertiban dan ketentraman masyarakat dan rakyat Belu.
o   Padi sebanyak 20 butir berwarna kuning dan batang kapas berwarna hijau sedang berbunga 12 kuntum dihubungkan dengan pita berwarna putih dan tulisan angka 1958, melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran, sekaligus sejarah berdirinya Nusa Tenggara Timur dan kelahiran Kabupaten Belu pada tanggal 20 Desember 1958.
o   Dibawah butir-butir padi terdapat daun bawang putih sebanyak 5 helai berwarna hijau dan dibawah daun-daun kapas terdapat 8 lembar daun cendana sebagai lambang produk andalan Kabupaten Belu.

NILAI BUDAYA
Hamis Batar Hatama Manaik
Prosesi Upacara Hamis Batar
Upacara Hamis Batar merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Belu yang dipimpin oleh Tetua Adat nya menyambut musim petik jagung atau panen jagung, sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Sang Pencipta. 
Hamis menurut bahasa setempat berarti sukur dan batar berarti jagung. Masyarakat percaya bahwa hasil jagung yang akan mereka peroleh merupakan karunia Sang Pencipta. Rasa syukur ini diwujudkan dengan mempersembahkan jagung yang terbaik hasil panen kepada Yang Maha Kuasa.
Sebelum upacara dimulai para kepala keluarga turun ke kebun masing-masing untuk memetik sebuah jagung termuda dan paling bagus. Setelah itu mereka berkumpul di tempat upacara dan diadakan seleksi jagung yang paling bagus. Jagung yang paling baik kemudian diletakkan di troman (tiang agung) yang terbuat dari tumpukkan batu yang dikelilingi batu-batu kecil untuk meletakkan jagung baik yang lainnya. 
Setelah semua batu tertutup oleh jagung muda, Ketua Adat kemudian memimpin doa persembahan jagung kepada Sang Pencipta dan memohon agar jagung yang dipanen bermanfaat. Seusai berdoa, upacara dilanjutkan dengan menyebar jagung-jagung ke seluruh kebun untuk dipersembahkan kepada Penguasa Tanah, Foho Norai, yang telah memberikan tanah dan kesuburan jagung.
Upacara dilanjutkan dengan batar babulun, pencabutan pohon jagung secara utuh, untuk dibawa ke kampung dan diikat pada tiap-tiap kayu tiang agung yang sesuai dengan fungsinya, yaitu karau sarin(untuk beternak sapi), fahi ahuk (untuk beternak babi), dan fatuk(untuk orang-orang tua atau ektua adat). Seiring dengan upacara tersebut diadakan batar fohon, yaitu acara pemotongan batang buah jagung menjadi 12 potong untuk diserahkan kepada Ketua Adat, dan selanjutnya Ketua Adat menentukan waktu upacara inti.
Upacara inti hamis batar itu sendiri merupakan proses persembahan sesaji/jagung-jagung yang baik yang telah dikupas dan dibakar kemudian dimasukkan kedalam gantang penyimpanan jagung yang disebut hane matan untuk dipersembahkan di tempat-tempat yang dianggap keramat (We Lukik, Rai Bot dll). Pada proses pembakaran jagung, api yang digunakan merupakan api khusus yang disebut Tahu Hai yang dibuat oleh ketua adat dengan menggosokkan sepotong batu berwarna merah dengan sepotong besi yang disertai serbuk dari pohon enau. Pembakaran dilakukan dengan tiga buah tungku yang diiringi dengan pembacaan doa oleh ketua adat.

Hatama Manaik
Upacar hatama manaik merupakan pelengkap upacara hatama batar, yaitu proses upacara persembahan jagung muda (manaik) dari masyarakat kepada pemimpin masyarakat/raja sebagai ungkapan rasa terima kasih dan penghargaan atas kepemimpinannya.
    Dalam proses upacara hatama manaik dari awal hingga akhir diatur oleh penghubung raja yang biasa disebut Kaburai.

SEJARAH KABUPATEN MALAKA

SEJARAH SINGKAT MUNCULNYA MALAKA

A.  Gambaran Umum Masyarakat Malaka
Ditinjau dari segi Budaya dan Antropologis, penduduk Malaka dalam susunan masyarakatnya terbagi atas 2 sub etnik yang besar yaitu : Ema Tetun dan Ema Dawan ”R”. Kedua sub etnik mendiami lokasi - lokasi dengan karerkteristik tertentu dengan kekhasan penduduk bermayoritas penganut agama Kristen Katolik. Masing - masing etnik tersebut mempunyai bahasa dan praktek budaya yang saling berbeda satu sama lain dan kesamaan dilain segi. Kendati demikian masyarakat Malaka dapat dengan mudah hidup rukun dikarenakan aspek kesamaan-kesamaan spesifik. Mata Pencaharian utama adalah bertani yang masih dikerjakan secara ekstensif tradisional.
Dari aspek ekologis, kondisi tanah Malaka sangat subur karena selain memiliki lapisan tanah jenis berpasir dan hitam juga dikondisikan dengan curah hujan yang relative merata sepanjang tahun. Daerah Malaka yang subur tersebut membuatnya potensial untuk dikembangkan menjadi daerah peternakan dan pertanian. Sub sektor perikanan dengan kawasan pantai yang membentang dari Malaka bagian selatan sampai utara turut mempengaruhi pemerataan pekerjaan dan pendapatan. Selain itu dari sub sektor kehutanan kontribusi yang diperoleh juga signifikan dengan beberapa jenis pohon produktif seperti cendana, eukaliptus, kayu merah dan jati. Dari sektor dan sub sektor lainnya seperti perdagangan dan jasa, industri dan lainnya juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembentukan PDRB dan peningkatan PAD.

B.  Sejarah Singkat Orang Malaka
Sesuai berbagai penelitian dan cerita sejarah daerah Malaka, bahwa sebelum orang Malaka menghuni Daerah Malaka maka sebelumnya ada sebuah suku yang terlebih dahulu mendiami wilayah Kab. Belu Umumnya adalah "Suku Melus". Orang Melus di kenal dengan sebutan "Emafatuk oan ai oan", (manusia penghuni batu dan kayu). Tipe manusia Melus adalah berpostur kuat, kekar orangnya dan bertubuh pendek. Selain suku melus yang menghuni daerah tersebut, berdasarkan sebuah sumber terpercaya yang penulis ketahui bahwa Orang Malaka sebenarnya berasal dari "Sina Mutin Malaka" yang datang dari Negara Cina atau Thailand yang berlayar menuju Timor melalui Larantuka dan mendiami daerah Belu umumnya. Namun berjalannya waktu terjadilah kawin campur antara orang asli Suku Melus dengan Pendatang Sina Mutin Malaka hingga menyebar ke wilayah selatan Kab. Belu yang sekarang mendiami wilayah Malaka, namun perlu diketahui bahwa disisi lain terdapat berbagai versi cerita. Kendati Demikian, intinya bahwa, ada kesamaan universal yang dapat ditarik dari semua informasi dan data.
Ada cerita bahwa ada tiga orang bersaudara dari tanah Malaka yang datang dan tinggal di Belu umumnya, bercampur dengan suku asli Melus. Nama ketiga saudara itu menurut para tetua adat masing - masing daerah berlainan. Dari makoan Faturuin menyebutnya Nekin Mataus (Likusen), Suku Mataus (Sonbay), dan Bara Mataus (Fatuaruin). Sedangkan Makoan asal Dirma menyebutnya Loro Sankoe (Debuluk, Welakar), Loro Banleo (Dirma, Sanleo) dan Loro Sonbay (Dawan). Namun menurut beberapa Makoan asal Besikama yang berasal dari Malaka ialah; Wehali Nain, Wewiku Nain dan Haitimuk Nain.
Bahwa para pendatang dari Malaka itu bergelar raja atau loro dan memiliki wilayah kekuasaan yang jelas dengan persekutuan yang akrab dan masyarakatnya.Kedatangan mereka ke tanah Malaka hanya untuk menjalin hubungan dagang antar daerah di bidang kayu cendana dan hubungan etnis keagamaan yang mana kekuasaan Tanah Malaka pada saat itu dipimpinan atau dipegang oleh "Liurai Nain” di Malaka. Bahakan menurut para peneliti asing ”Liurai Nain” kekuasaaannya juga merambah sampai sebahagian daerah Dawan (insana dan Biboki). Dalam melaksanakan tugasnya di Malaka, Liurai Nain memiliki perpanjangantangan yaitu Wewiku-Wehali dan Haitimuk Nain. Selain juga ada Faturuin, Sonabi dan Suai Kamanasa serta Loro Lakekun, Dirma, Fialaran, maubara, Biboki dan Insana. Liu Rai sendiri menetap di laran sebagai pusat kekuasaan kerajaan Wewiku-Wehali.
Menurut para sejarahwan Tanah Malaka disebarluaskan menjadi Belu bagian Selatan. Pada masa penjajahan Belanda muncullah siaran dari pemerintah raja - raja dengan apa yang disebutnya "Zaman Keemasan Kerajaan". Apa yang kita catat dan dikenal dalam sejarah daerah Belu, khususnya wilayah Malaka adalah adanya kerajaan Wewiku-Wehali (pusat kekuasaan seluruh Malaka). Menurut penuturan para tetua adat dari Wewiku-Wehali, untuk mempermudah pengaturan sistem pemerintahan, Liurai Nain mengirim para pembantunya ke seluruh wilayah Kab. Belu sebagai Loro dan Liurai.
Tercatat nama - nama pemimpin besar yang dikirim dari Wewiku-Wehali seperti Loro Dirma, Loro Lakekun, Biboki Nain, Harneno dan Insana Nain serta Nenometan Anas dan Fialaran. Ada juga kerajaan Fialaran di Belu bagian Utara yang dipimpin Dasi Mau Bauk dengan kaki tangannya seperti Loro Bauho, Lakekun, Naitimu, Asumanu, Lasiolat dan Lidak. Selain itu ada juga nama seperti Dafala, manleten, Umaklaran Sorbau. Dalam perkembangan pemerintahannya muncul lagi tiga bersaudara yang ikut memerintah di Utara yaitu Tohe Nain, Maumutin dan Aitoon.
Sesuai pemikiran sejarahwan Belu, dalam berbagai penuturan di Utara maupun di Selatan terkenal dengan nama empat jalinan terkait. Di Belu Utara bagian Barat dikenal Umahat, Rin besi hat yaitu Dafala, Manuleten, Umaklaran Sorbau dibagian Timur ada Asumanu Tohe, Besikama-Lasaen, Umalor-Lawain. Dengan demikian rupanya keempat bersaudara yang satunya menjelma sebagai tak kelihatan itu yang menandai asal - usul pendatang di Belu membaur dengan penduduk asli Melus yang sudah lama punah.

C.  Susunan Strafikasi Masyarakat Malaka
Membahas tentang struktur masyarakat tidak lain dari pada mengulas tentang tingkatan - tingkatan dalam masyarakat yang ada dalam.suatu komunitas atau persekutuan tertentu. Yang tersusun dalam susunan atau lapisan - lapisan dalam masyarakat yang disebut stratifikasi sosial. Pembagian dan pembedaan masyarakat Malaka dalam kelas - kelas hirarkis di bawah ini di dasarkan pada turunan/ras yang yang ada sejak penduduk para pendatang sampai dengan kejayaan zaman kerajaan.
Menurut H.J. Grijzen seperti dikutip dalam tulisan Rm. Florens Maxi Un Bria dalam " The Way To Happiness Of Belu People" bahwa masyarakat Malaka mengenal klasifikasi masyarakatnya atas 3 (tiga) golongan, yang secara hirarkis terdiri dari :
1.    Dasi atau golongan bangsawan yang menempati lapisan terpusat dan dari kelompok inilah terpilih Loro / Liurai / Na'I yang akan memangku jabatan kepemerintahan secara turun temurun.
2.    Renu yang tidak lain adalah rakyat jelata yang merdeka
3.    Ata atau klason yang merupakan golongan hamba sahaya. Mereka yang masuk dalam golongan ini biasanya merupakan tawanan perang yang dijadikan budak untuk melayani kebutuhan masyarakat golongan renu atau golongan dasi. Perdagangan budak belian ini sempat menjadi komoditi pada tahun 1892 (pada daerah Jenilu - Atapupu) sampai pada akhirnya di awal abad 20-an Pemerintah Belanda mengeluarkann "Pax Nederlandica" sehingga perdagangan budak dihapus.
Pembagian masyarakat Malaka sendiri ditinjau dari segi ekonomis terdiri dari klasifikasi "orang berpunya/the haves" (Ema Mak Soin) dan kelompok "orang miskin/the haves not" (Ema Kmukit). Ukuran untuk menentukan dua macam kelas ini tergantung pada pendapatan yang ia peroleh dan cara atau pola hidupnya setiap hari.
Dari sudut politik pemerintahan nasional, kita mengetahui bahwa penggolongan masyarakat Jawa atas tiga golongan / tiga kelompok besar yang saling melengkapi satu dengan yang lain. Dalam keterkaitannya dengan struktur masyarakat Malaka maka kita mengenal beberapa kelompok/golongan masyarakat yang terdiri dari :
Ø  Pertama adalah kelompok teratas atau kelompok raja (Nain Oan) masuk kelompok priyayi.
Ø  Kelompok lain adalah kelompok masyarakat bawah (Hutun Renu) atau marjinal dan orang kecil.
Ø  Antara dua kelompok itu ada kelompok penengah atau disebut Fukun dato.
Keterkaitan antara ketiga kelompok utama tersebut terwujud dalam realisasi program dan kerja nyata. Dalam hal ini, kelompok Raja berperan mengawasi pelaksanaan pembangunan dan membuat putusan pemerintahan. Kelompok Hutun Renu sebagai mediator antara kedua kelompok tersebut. Perlu dicatat di sini bahwa dalam proses pengambilan keputusan (fui mutu lian-fui mutu ibun) secara adat dengan korban bakaran.
Perlu ditambahkan disini bahwa dalam jajaran dan tataran kelompok penurutan raja atau kerabatan horizontal yang dinamakan "klaken soman" ada juga kelompok vertikal yang disebut "Tohu Larus Hudi Oan". Dalam catatan sejarah lokal, menuturkan bahwa di kerajaan Wewiku - Wehali ada 4 dato yang sangat berperan dalam fungsinya sebagai mediator yaitu, Dato Leki Nahak Tamiru Usi Hawai Lerek (penguasa daerah pesisir laut) atau yang disebut Meti Ktuik. Dato Klisuk Rai dan Klisuk Lor yang menguasai daerah enclave laut (hasan). Sedangkan Dato Mota menguasai daerah pesisir kali Benenai (Mota Ninin Hare Ninin). Sehingga sesekali dalam kurun waktu tertentu seorang Dato wajib membawahi upeti kepada rajanya.


D.  Rencana Terbentuknya Kabupaten Malaka
Tulisan berikut ini mencoba memberikan gambaran yang obyektif dan sesunggunhnya tentang proses dan tahapan yuridis dari terbentuknya suatu Daerah Otonom sehingga ada pencerahan bagi masyarakat Malaka khususnya. Selain itu juga akan dikemukakan prospek dari terbentuknya suatu Daerah Otonom baru disebut dengan “Kabupaten Malaka”.
Semua elemen dalam masyarakat dapat memahami, menyiapkan diri dan merencanakan bentuk-bentuk partisipasi apa saja yang dapat ia sumbangkan demi memajukan Daerah Otonomi baru tersebut jika pada saatnya terbentuk secara defenitif. Dengan demikian, isu negatif bahwa ide memekarkan suatu wilayah hanya semata-mata untuk mengakomodir kepentingan elit-elit politik dan aparat birokrasi dapat dimengerti sebagai suatu isu destruktif yang sebetulnya tidak memiliki kebenaran secara keseluruhan.
Pertanyaan makro yang dapat dianalisis berikut ini adalah untuk apa dan mengapa suatu daerah perlu dimekarkan sebagai suatu Daerah Otonomi? Refleksi ini lebih difokuskan pada pemekaran Kabupaten Belu agar ada pemahaman yang ideal tentang pemekaran suatu daerah.
Sesuai amanat yuridis-formal, pembentukan suatu Daerah Otonom baru dimaksudkan untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, mengoptimalkan berbagai potensi wilayah dan memperpendek Rentang Kendali Birokrasi yang memiliki fungsi memerintah dan yang melayani. Berbagai maksud diatas bertujuan akhir agar rakyat dapat menjadi sejahtera setidaknya ada pemenuhan kebutuhan dasar (Basic Need) bagi kelompok masyarakat kelas menengah dan kelas bawah. Paradigma ini diimplementasikan oleh semua “Stakeholder” berbasiskan pada pusat-pusat kekuasaan yang dibentuk dalam Negara Kesatuan yang berbentuk Republik yaitu Pemerintah Daerah (Birokrasi dan DPRD) bersama semua elemen dan civil society seperti Perguruyan Tinggi, LSM, Parpol dan Lembaga Pers.
Dalam tataran ini, terbentuknya Daerah Otonom baru “Kabupaten Malaka” diharapkan tidak saja memenuhi kebutuhan elit birokrasi karena adanya posisi-posisi strategis dalam pemerintahan dan lembaga perwakilan rakyat yang juga dianggap “berwibawa” dan “terhormat” tetapi juga daerah otonom baru tersebut harus dipersiapkan dan didorong untuk optimalisasi potensi wilayah seperti sector peternakan, pertanian, industri kecil dan pengembangan pendidikan yang berbasiskan sekolah-sekolah kejuruan. Sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste, Kabupaten Malaka dapat direncanakan sebagai daerah “Transit” yang menghubungkan mobilisasi barang dan manusia dari Timor Leste ke Kupang dan wilayah-wilayah lain di NTT.
Konsekwensi logisnya adalah adanya infrastruktur yang memadai dan industri-industri jasa yang sesuai kebutuhan. Momentum inilah sebetulnya yang diharapkan dapat memberi kontribusi yang realistis bagi masyarakat pada umumnya karena terbukanya lapangan kerja baru dan adanya daya beli yang signifikan atas hasil-hasil produksi yang melibatkan warga kedua negara di kawasan perbatasan.

E.  Wilayah Malaka
Wilayah Malaka terdiri atas 12 Kecamatan yaitu :

  1. Kecamatan Lokufeu
  2. Kecamatan Sasitamean.
  3. Kecamatan Laenmane
  4. Kecamatan Malaka Timur
  5. Kecamatan Kobalima
  6. Kecamatan Kobalima Timur
  7. Kecamatan Malaka Tengah
  8. Kecamatan Malaka Barat
  9. Kecamatan Weliman
  10. Kecamatan Wewiku
  11. Kecamatan Botin Leobele
  12. Kecamatan Rinhat
F.   Sumber Daya Alam Daerah Malaka
Sumber Daya Alam wilayah Malaka yang relatif besar terdiri dari SDA yang ada di laut dan SDA yang ada di darat yang mana wilayah laut terdapat kekayaan alam laut yang hingga saat ini belum tersentuh baik dari pemerintah maupun masyarakat malaka sendiri.
Sedangkan dalam konteks pengembangan ekonomi yang berbasis kerakyatan dapat memberi peluang baru untuk mengembangangkan kekayaan kekayaan darat seperti tanaman-tanaman perdagangan yang memiliki nilai ekonomi yang besar dalam pengembangan dan peningkatan produksi, diantaranya : tanaman kemiri, tanaman kakao serta tanaman lainnya dan bahkan dapat dikembangkan sebagai daerah dengan produksi padi, kacang-kacangan dan palawija yang dapat meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat Malaka pada umumnya.

G. Pembangunan Daerah Malaka
Dalam konteks “grand design” Pembangunan Kabupaten Malaka tampaknya karakteristik wilayah dan peradaban masyarakat menghendaki pembangunan dan pengembangan berpola Trilogi pembangunan sector (tiga batu tunggu Versi Piet A. Tallo, SH ) yaitu sinergisitas yang berkesinambungan dan sustainable antara indikator infrastruktur (jalan, jembatan dan sarana prasarana lainnya) yang dibangun sesuai rencana tataruang wilayah sehingga tidak terjadi “crowded” kawasan yang tidak produktif dalam pengembangan wilayah.
Indikator terkait lainnya adalah adanya sarana prasarana serta sumberdaya di bidang kesehatan yang memadai agar faktor penyelamatan manusia menjadi prioritas dalam penataan kawasan Malaka masa depan. Indikator terkait lainnya adalah pengembangan ekonomi yang berbasis kerakyatan agar dapat dikembangkan dan ditumbuhkan daya beli masyarakat kelas menengah dan kelas bawah. Terbentuknya kelompok-kelompok usaha ekonomi rumah tangga dan industri-industri rumah tangga harus mendapat porsi perhatian yang maksimal dalam memulai membangun dan menata Kabupaten Malaka yang prospektif. Signifikansi 3 sektor utama tersebut di atas dengan sendirinya akan memacu pembangunan sektor-sektor lainnya seperti pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan.
Dengan disain pembangunan Malaka yang berorientasi kerakyatan dan pemenuhan kebutuhan dasar tersebut, tampaknya Pemerintah Daerah yang baru terbentuk nanti bersama DPRD dapat mempersiapkan suatu model Anggaran Pembangunan Belanja Daerah (APBD) yang berbasis kepentingan rakyat untuk kesejahteraan masyarakat.
Dengan demikian praktek-praktek APBD yang kolonialistis tidak mendapat tempat dalam pembangunan dan pengembangan Kabupaten Malaka. Model demikian dapat disebut pembangunan Malaka berdasarkan “segitiga emas”, kesehatan masyarakat prioritas pertama, infrastruktur pendukung utama, dan ekonomi kerakyatan menjadi muara utama. Sedangkan faktor-faktor lainnya akan tumbuh dan berkembang bersamaan dengan tuntutan waktu dan perubahan “Tempora mutantur et nos mutamur in illis” (waktu yang berubah menuntut kita ikut berubah didalamnya).

Senin, 15 Februari 2016

Laporan PMBP

LAPORAN PMBP


Bimbingan Belajar PAUD dan
Penyuluhan Posyandu

Oleh
Ketua : Yanuarius Luan
NPM : 2121000210116
Anggota :
1.      Alcina Bareto Macno dacosta
NPM : 2121000210292
2.      Maria Sifadelia Bita
NPM : 2121000210105
3.      Oktavianus Hale Moruk
NPM :2121000210117
                                            
                                            
PUSAT PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA
MASYARAKAT
IKIP BUDI UTOMO MALANG
2015/2016




HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

1.
Jenis Kegiatan
1.      Bimbingan Belajar PAUD
2.      Penyeluhan Posyandu
2.
Ketua/Pelaksana
a.    Nama
b.   NPM
c.    Angkatan/Semester
d.   Jurusan
e.    Fakultas

: Yanuarius Luan
: 2121000210116
: 2012/VII (Tujuh)
: Matematika
: FPIEK
3.
Personalia
Jumlah Anggota Pelaksana

4 Orang Mahasiswa
4.
Jangka Waktu Kegiatan
: 2 (dua) Bulan
5.
Tempat Pengabdian
: Desa : Sisi
: Kec. : Kobalima
Kab./Kota : Malaka
Propinsi : Nusa Tenggara Timur (NTT)


                                                                                    Naekasak,      Desember 2015
Mengetahui                                                                               Pelaksana/Ketua (Mahasiswa 
Kepala P2M,



(Drs. Adi Sucipto, M.Kes)                                                       (Yanuarius Luan)



ABSTRAK

PMBP (Pedoman Pengabdian Pada Masyarakat Berbasis Potensi ) merupakan salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, dimana mahasiswa dituntut untuk berperan aktif dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah disusun untuk dapat direalisasikan, bagaimana bersosialisasi, berinteraksi dengan kehidupan bermasyarakat dalam suatu tempat atau wilayah tertentu dengan menerapkan disiplin ilmu yang dimiliki kepada masyarakat.
Lokasi Program Pengabdian kepada Masyarakat yaitu Di Naekasak, Desa Sisi, Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka. Dari pengamatan kami, siswa/i dan masyarakat di lingkungan ini khususnya sangat membutuhkan bimbingan belajar untuk mengembangkan prestasi belajar mereka di sekolah,dan penyuluhan terhadap siswa/i tentang Bahaya Narkoba Terhadap Kesehatan. Walaupun mereka memiliki karakter yang berbeda-beda tetapi mereka mampu membina komunikasi yang baik dengan saya sebagai fasilitator atau pembimbing. Rasa kekeluargaan yang dirasakan cukup membuat kami merasa nyaman dalam memberikan bimbingan dalam rangka kegiatan PMBP ini.
Masyarakat di lingkungan ini sangat mendukung adanya bimbingan belajar. Ini dilihat dari antusiasme orang tua yang mau mengantarkan anaknya setiap hari Sabtu dan Minggu yang kami luangkan untuk melakukan bimbingan belajar yang mencakup semua mata pelajaran dari sekolah. Anak-anak memiliki semangat dan motivasi yang luar biasa untuk belajar. Sektor utama atau target utama dalam kegiatan PMBP ini adalah sektor pendidikan dan penyuluhan masyarakat. Kami mencoba memberikan bantuan di bidang pendidikan. Wujud bantuan tersebut dengan menginterpretasikan permasalahan ke dalam bentuk program kegiatan yang bertujuan untuk membantu masyarakat sesuai dengan masalah yang timbul. Adapun program tersebut yaitu bimbingan belajar, pelatihan olaraga dan penyuluhan terhadap masyarakat tentang peran aktif orang tua terhadap belajar anak.



HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

1.
Jenis Kegiatan
3.      Bimbingan Belajar PAUD
4.      Penyeluhan Posyandu
2.
Ketua/Pelaksana
f.    Nama
g.   NPM
h.   Angkatan/Semester
i.     Jurusan
j.     Fakultas

: Yanuarius Luan
: 2121000210116
: 2012/VII (Tujuh)
: Matematika
: FPIEK
3.
Personalia
Jumlah Anggota Pelaksana

4 Orang Mahasiswa
4.
Jangka Waktu Kegiatan
: 2 (dua) Bulan
5.
Tempat Pengabdian
: Desa : Sisi
: Kec. : Kobalima
Kab./Kota : Malaka
Propinsi : Nusa Tenggara Timur (NTT)



                                                                  
Mengetahui                                                                 Naekasak,      Desember 2015
Kepala P2M,                                                               Pelaksana/Ketua (Mahasiswa)



(Drs. Adi Sucipto, M.Kes)                                          (Yanuarius Luan)




KATA PENGANTAR

            Puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT, karena atas segala limpahan berkat, kasih dan karunia-Nya semata, Laporan Pelaksanaan Bimbingan Belajar dan penyuluhan, Kota Betun ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Dalam penyusunan laporan ini, telah melibatkan berbagai pihak. Oleh karena itu, penyusun mengucapkan terima kasih kepada :
1.        Bapak Kepala Desa Sisi yang telah bersedia memberikan ijin kesempatan dan kepercayaan kepada penyusun untuk melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Pendidikan (PMBP) di Kecamatan Kobalima.
2.        Bapak RT 01 RW 09 yang telah memberi ijin, kesempatan dan kepercayaan kepada penyusun untuk melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Pendidikan (PMBP)
3.        Para Masyarakat Desa Sisi,Khususnya Anak-anak remaja Desa Sisi,yang telah berpartisipasi dalam kegiatan Program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Pendidikan (PMBP)
Penyusun menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu saran dan kritik yang membangun sangat penyusun harapkan demi pengembangan kearah yang lebih baik. Akhir kata, penyusun berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca yang budiman serta bagi penyusun untuk langkah yang akan datang.

   




Malang, 20 Desember 2014

Penyusun




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................................ i    
ABSTRAK................................................................................................................................. ii
LEMBAR PENGESAHAN...................................................................................................... iii
KATA PENGANTAR.............................................................................................................. iv
DAFTAR ISI.............................................................................................................................. v
BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang................................................................................................................. 1
  2. Tujuan.............................................................................................................................. 1
  3. Manfaat............................................................................................................................ 2
  4. Sasaran............................................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
  1. Pelaksanaan Kegiatan ..................................................................................................... 3
  2. Jadwal Kegiatan.............................................................................................................. 4
  3. Personalia......................................................................................................................... 5
  4. Hasil Kegiatan dan Pembahasan ..................................................................................... 5
BAB III PENUTUP
  1. Kesimpulan...................................................................................................................... 9
  2. Saran................................................................................................................................ 9
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN




BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Kegiatan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) merupakan suatu kegiatan perkuliahan intrakurikuler dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan mahasiswa secara terpadu untuk mengembangkan pendidikan dan pengajaran yang diperoleh selama mahasiswa mengembangkan ilmu dibangku perkuliahan. Adapun kegiatan PMBP tersebut diselenggarakan sebagai salah satu syarat yang harus ditempuh oleh mahasiswa program strata satu S-1
          Dalam penyelenggaraannya program PMBP tersebut bertujuan agar para mahasiswa dapat mengamati, menelaaah, menganalisis dan menarik kesimpulan dari data kondisi dan situasi wilayah kerja yang kemudian dapat merumuskan permasalahan yang dihadapi, lalu mengambil keputusan untuk penanggulangannya dari berbagai alternatif yang ada dan sesuai dengan kondisi wilayah kerja dan kemampuannnya.
          Program Pengabdian kepada Masyarakat (PMBP) tersebut juga bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan mahasiswa sehingga memiliki kepekaan sosial dan kemampuan berinteraksi dengan masyarakat secara langsung dan menjadi pengalaman yang tidak pernah didapatkan dibangku perkuliahan, juga dapat menyumbangkan pemikiran berdasarkan keilmuan dalam dalam upaya menumbuhkan, membina dan mempersiapkan kader – kader pembangunan khususnya bidang pendidikan
Salah satu yang ditempuh dalam rangka pengabdian kepada masyarakat tersebut adalah dengan cara memberikan perhatian penuh terhadap pembinaan sikap mental masyarakat, karena keterlibatan masyarakat merupakan subyek sekalipun obyek dalam pembangunan khususnya bidang pendidikan itu sendiri. Sehubungan dengan permasalahn tersebut, maka IKIP Budi Utomo Malang sebagai lembaga perguruan yang bergelut dalam dunia pendidikan salah stu kiprahnya dalam berinteraksi dengan masyarakat diwujudkan dengan program PMBP.
B.        Tujuan
  1. Tujuan Umum
a.       Mengamalkan ilmu pengetahuan, teknolgi, dan seni (Iptek).
b.      Membantu mempercepat pembangunan masyarakat dalam upaya meningkatkan Kesehatan masyarakat.
c.       Mendekatkan Civitas Akademika IKIP Budi Utomo dengan masyarakat.
d.      Mendukung program dan pengembangan pemerintah daerah.
  1. Tujuan Khusus
a.       Pemberdayaan Masyarakat dengan Meningkatkan Potensi SDM dalam ranah Keilmuan (pengetahuan), Teknologi informasi, jiwa interpreneurship dan berbudi pekerti luhur.
b.      Sebagai sarana pembelajaran dan wahana bagi masyarakat (calon guru) untuk mengajar dan mendidik (kompetensi professional, paedagogik dan personal), serta mengabdi (kompetensi personal dan sosial).
c.       Pembelajaran dan wahana bagi civitas akademika khususnya mahasiswa untuk menjalankan tri dharma secara efektif dan efisien dan kerangka dalam kerangka visi dan misi institusi
d.      Sarana Publikasi, memperkokoh eksistensi dan keberlanjutan Institusi.
e.       Mendekatkan Institusi sebagai bagian dari dan untuk masyarakat, bangsa dan Negara.
C.       Manfaat
1.      Peningkatan kompetensi mahasiswa dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
2.      Peningkatan sikap profesional mahasiswa terutama dalam bidang pengabdian pada masyarakat.
3.      Di bidang pendidikan, hasil pengabdian pada masyarakat dapat digunakan sebagai perbaikan dan/atau peningkatan kualitas pembelajaran.
D.       Sasaran
            Sasaran dalam kegiatan Pedoman Pengabdian pada Masyarakat Berbasis Potensi (PMBP) adalah Anak-anak sekolah yaitu PAUD di lingkungan Naekasak, Desa Sisi, Kec. Kobalima, Kab. Malaka – NTT.


BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pelaksanaan Kegiatan
1.    Program Kerja PMBP
Program kerja merupakan satuan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. Dengan demikian, maka yang dimaksud dengan Program Kerja PMBP adalah satuan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan selama kegiatan PMBP berlangsung. Pelaksanaan program kerja PMBP di lingkungan Naekasak didasarkan pada Buku Pedoman Pengabdian Pada Masyarakat (PMBP) yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) IKIP Budi Utomo Malang tahun 2015. Berdasarkan buku panduan tersebut, bentuk kegiatan PMBP adalah pemberdayaan potensi desa sebagai bentuk implementasi Tridarma Perguruan Tinggi, yakni Pengabdian pada Masyarakat. Hal tersebut dilaksanakan melalui bentuk-bentuk kegiatan :
1.      Penyuluhan (misalnya tentang kesehatan, pengembangan jiwa enterpreunersip, kewirausahaan, dan keagamaan),
2.      Pelatihan (pelatihan keterampilan olahraga, penguasaan Bahasa Inggris, enterpreunersip dan kewirausahaan),
3.      Pendampingan dan bimbingan belajar,
4.      Menduduki jabatan organisasi kemasyarakatan,
5.      Melakukan kegiatan pengabdian di lingkungan kampus IKIP Budi Utomo Malang
6.      Kegiatan sosial lainnya.
Substansi kegiatan lebih difokuskan pada Praktek Kerja Lapangan melalui penerapan ilmu yang diperoleh para mahasiswa di bangku kuliah sesuai dengan program studi dan lapangan keilmuan yang mereka miliki. Dengan demikian, kegiatannya lebih variatif dan multi disiplin namun terpadu. Bentuk kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama diantaranya :
1)      bimbingan belajar untuk pelajar di lingkungan Naekasak.
2)      penyuluhan di lingkungan Naekasak.

2.    Jadwal Kegiatan PMBP
NO
Hari/Tgl
Pukul/Jam
Jenis Kegiatan
1.
Sabtu
10 – 10 – 2015

08.00 – 10.00
Mendampingi Bapak/Ibu Kader di Posyandu dalam menimbang berat badan anak.
2.
Sabtu
10 – 10 – 2015
15.00 – 17.00
Perkenalan bersama anak – anak PAUD dan Kepala PAUD
3.
Minggu
18 – 10 - 2015
15.00 – 17.00
Melatih anak – anak mengenal tulisan dan bernyanyi
4.
Minggu
18 – 10 - 2015
15.00 – 17.00
Melatih anak – anak bernyanyi sambil bergandengan tangan

5.
Sabtu
24 – 10 – 2015
15.00 – 17.00
Melatih anak – anak membaca

6.
Minggu
25 – 10 – 2015
15.00 – 17.00
Menguji anak – anak


7.
Sabtu
31 – 10 – 2015
15.00 – 17.00
Mendampingi anak – anak diluar ruangan sambil melatih anak – anak bernyanyi sambil bergandengan tangan bersama Kepala PAUD

8.
Selasa
10 – 11 – 2015
08.00 – 10.00
Menimbang berat badan anak dan mengecek peningkatan berat badan anak bulan lalu.
9.
Kamis
10 – 12 – 2015
08.00 – 10.00
Bersama Kepala Kader dan ibu – ibu Kader  menibang berat badan anak dan mengecek kembali peningkatan berat badan anak 2 bulan lalu.


3.    Personalia
Anggota Personalia Pelaksana PMBP
1.      Yanuarius Luan (Ketua)
NPM         : 2121000210116
Jurusan      : Matematika
2.      Alcina Bareto Macno Dacosta (Anggota)
NPM         : 2121000210292
Jurusan      : Matematika
3.      Maria Sifa Delia Bita (Anggota)
NPM         : 2121000210105
Jurusan      : Matematika
4.      Oktavianus Hale Moruk
NPM         : 2121000210117
Jurusan      : Matematika

A.       Hasil Kegiatan dan Pembahasan
1.    Bimbingan Belajar
Kebutuhan akan bimbingan bagi para siswa disebabkan oleh perkembangan kebudayaan yang sangat pesat yang mempengaruhi perkembangan masyarakat secara keseluruhan. Dengan bimbingan akan membantu PAUD dalam bimbingan belajar sesuai dengan perkembangan usia anak. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan siswa/I PAUD masuk ke jenjang yang lebih tinggi Sekolah Dasar (SD). Sebagaimana telah kita ketahui sekolah tradisional sangat mementingkan mata pelajaran. Mata pelajaran yang diberikan secara terpisah pada umunya tidak dapat membantu siswa untuk menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya sangat diperlukan untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Hal itu tentu saja menimbulkan masalah terutama bagi siswa yang tidak dapat melanjutkan pendidikan lagi. Bagi mereka mata pelajaran pada hakekatnya merupakan gawang yang harus dilalui dalam memperoleh ijazah atau mengakhiri pendidikan. Gejala-gejala diatas meberikan petunjuk mengenai perlunya bimbingan baik untuk mempelajari mata pelajaran maupun dalam rangka persiapan untuk melanjutkan studi kelembaga yang lebih tinggi.
Bimbingan merupakan suatu proses memberi bantuan pada individu agar individu itu dapat mengenal dirinya dan dapat memecahkan masalah dirinya sendiri sehingga ia dapat menjalani hidupnya dengan bahagia. Bimbingan juga merupakan suatu proses yang bertujuan agar siswa bertanggung jawab menilai kemampuannya sendiri dan menggunakan pengetahuan secara efektif dan semua potensi siswa berkembang secara optimal. Bimbingan kelompok dilakukan pada siswa yang memiliki masalah sejenis dan dilakukan secara bersama-sama sedangkan bimbingan individu dilakukan secara pribadi pada waktu dan tempat yang khusus. Kedua jenis bimbingan ini dapat membantu siswa sesuai dengan masalah yang dihadapi siswa. Selain itu bimbingan juga mempunyai fungsi penting di antaranya membantu siswa memperoleh pendidikan yang sesuai dengan minat dan bakat dan bimbingan membantu para siswa untuk meningkatkan hasil belajar yang baik. Dan berupaya agar mereka tidak mengalami kegagalan belajar serta memberikan pelayanan dengan perbedaan individu di antara siswa.
Jenis bimbingan belajar yang kami laksanakan adalah bimbingan secara berkelompok atau bersama-sama. Siswa diberikan masalah dan diberi bimbingan. Siswa dibimbing sampai memahami dan menemukan jawaban dari masalah yang dihadapi. Di sini kami bertindak sebagai fasilitator, siswa dilatih untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, bila sewaktu-waktu diperlukan akan diarahkan untuk menemukan jawaban sendiri. Hasil yang didapatkan adalah siswa menjadi lebih semangat dan termotivasi untuk mengerjakan atau mencari jawaban dari suatu masalah.


2.    Penyuluhan Kesehatan
Posyandu  merupakan satu bentuk upaya Kesehatan bersumber daya masyarakat ( UKBM) yang dikelola dan diselengarakan dari, oleh untuk dan bersama masyarakat guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar. Posyandu yang secara khusus di tunjukan bagi ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita, serta pasangan usia subur, memiliki lima pelayanan dasar yang sangat pokok. Kelima pelayanaan dasar tersebut antara lain : KIA, KB, Imunisasi, gizi, dan pencegahan serta penangulangi diare. Kesemuanya itu memiliki manfaat masing – masing yang akan membawa dampak positif bagi masyarakat.
Tujuan dari penyuluhan kesehatan posyandu  adalah agar masyarakat mengetahui apa saja manfaat yang dapat dari posyandu, sehingga dapat menumbuhkan rasa katertarikan untuk datang secara rutin keposyandu. Dengan masyarakat rutin datang keposyandu, tingkat kesehatan akan meningkat dan resiko kematian ibu dan anak akan semakin berkurang .
v  Penyuluhan  Kesehatan.
Dalam konsepsi kesehatan secara umum, penyuluhan kesehataan diartikan sebagai kegiatan pendidikan kesehatan yang dilakukan dengan cara menyebarluaskan pesan dan menanamkan keyakinaan.
Tujuan dari penyuluhan kesehatan adalah untuk mengubah prilaku kurang sehat menjadi sehat. Sementara itu sasaran penyuluhan kesehatan, seperti juga sasaran pendidikan kesehatan, meliputi masyarakat umum dengan orientasi masyarakat pedesaan, masyarakat  kelompok khusus, dan individu dengan teknik pendidikan kesehatan individual. Pada kesempatan kali ini akan dilakukan penyuluhan kesehatan terkait dengan manfaat posyandu.
v  Posyandu.
Posyandu  merupakan salah  satu  bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselengarakan dari, oleh,untuk dan bersama masyarakat dalam penyelengaraan pembangunaan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan  kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayaan kesehatan dasar, yang terutama adalah untuk mempercepat penurunaan angka kematian  ibu dan bayi.
Tujuan dari posyandu antara lain : untuk mempercepat penurunan angka kematian bayi, anak dan angka kelahiran, untuk mempercepat penerimaan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera ( NKKBS)  serta agar masyarakat dapat mengembangkan kegiatan kesejateraan dan kegiatan lain yang menunggu, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan sasaran pelayanan posyandu adalah semua anggota masyarakat, terutama ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan pasangan usia subur.
Pelayanan kesehatan dasar posyandu adalah pelayaan kesehatan yang mencakup sekurang – kurangnya lima kegiataan yakni kesehatan ibu dan anak (KIA) , Keluaraga berencan (KB) Imunisasi, gizi, dan penangulangan diere.


BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Bimbingan ini sangat penting dalam belajar mengajar berdasarkan alasan bahwa pelayanan terhadap perbedaan individu yang berpengaruh pada jasmani dan rohani untuk meningkatkan hasil belajar. Dan bimbingan berfungsi sebagai pemberi bantuan pada siswa untuk memahami dan mengenali semua pribadinya.
Pelatihan pada dasarnya adalah suatu proses memberikan bantuan bagi para anak-anak PAUD  untuk menguasai keterampilan khusus ( bimbingan belajar sore ) atau membantu untuk memperbaiki kekurangan dalam melaksanakan pekerjaan mereka.
Program yang telah kami laksanakan akhirnya dapat berjalan dengan baik dan lancar. Meskipun terdapat beberapa faktor kendala baik secara teknis maupun non teknis, namun semuanya itu dapat penulis lalui berkat bantuan dari masyarakat dan semua pihak yang membantu. Terutama sekali bantuan dari teman – teman satu kelompok yang sangat baik dan bersemangat dalam merealisasikan program yang kami buat bersama.
Keberadaan Program Pengabdian kepada Masyarakat di RW 01 Kel. Sisi, Kec. Kobalima, Kab. Malaka telah membuahkan sebuah hubungan kekeluargaan dan terjalinnya tali silaturahim antar mahasiswa PMBP dan warga setempat. Adanya kerjasama dari warga membuat program-program PMBP yang dilaksanakan yang merupakan suatu proses aplikasi ilmu yang dipelajari menjadi lebih berarti dan dapat sedikit membantu masyarakat. Setelah melaksanakan PMBP yang kurang lebih 8 minggu, seluruh program telah terlaksanakan. Walaupun terdapat kendala dan kekurangan di sana-sini, tetapi puji Tuhan  program semuanya dapat terlaksana sesuai rencana
B.       Saran
Kami berharap program yang telah dilaksanakan di RW 01 ini dapat bermanfaat dan berkesinambungan meskipun PMBP telah selesai. Semoga masyarakat dapat mengembangkan potensi diri sehingga dapat meningkatkan produktivitas lingkungannya. Perlu ditingkatkan pemahaman masyarakat terhadap eksistensi mahasiswa PMBP sebagai motivator atau penggerak kegiatan. Bagi mahasiswa PMBP berikutnya diharapkan bisa membuat program kegiatan yang lebih bermanfaat sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang bersangkutan.
1.         Untuk pihak Kampus
Program PMBP yang banyak sekali menyita waktu dari mahasiswa yang melaksanakan program tersebut,  alangkah baiknya jika jumlah SKS yang hanya 2 SKS saja kemudian ditingkatkan lagi menjadi 4 atau bahkan 6 SKS. Hal ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan antusias mahasiswa dalam melaksanakan programnya.
2.         Untuk Masyarakat
a.         Bagi masyarakat, hasil yang diperoleh hendaklah perlu terus dikembangkan sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat di masa yang akan datang. Juga setelah sepeninggal mahasiswa PMBP, masyarakat dapat tetap saling berkomunikasi, menjalin silaturrahmi dan menambah eratnya persahabatan.
b.         Pentingnya sikap toleransi, saling tolong-menolong dan dukungan dari masyarakat dalam melaksanakan program kerja/ kegiatan PMBP agar dapat berjalan dengan lancar, sukses dan sesuai harapan bersama.
c.         Kami berharap program yang telah kami laksanakan dapat terus dilanjutkan dan dimanfaatkan dengan baik oleh warga sehingga mampu mendukung kegiatan-kegiatan kemasyarakatan di RW 01, Kel. Sisi, Kec. Kobalima, Kab. Malaka.
3.         Untuk Mahasiswa
a.         Semoga mahasiswa PMBP IKIP Budi Utomo Malang selanjutnya akan lebih kreatif, inovatif dan mempunyai program yang lebih bervariatif serta bermanfaat bagi masyarakat lingkungan tempat mereka melakasanakan PMBP.
b.         Tidak menganggap bahwa apa yang dilakukan dalam PMBP sebagai beban.
c.         Diharapkan program yang diambil dapat sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat itu dan lebih baik lagi jika program yang dijalankan bermanfaat hingga waktu yang lama bagi masyarakat.



DAFTAR PUSTAKA
Bahtiar2385.wordpress.com/laporan kuliah kerja nyata-kkn. 2010.
Http://chvoong.com. Epidermiologi dan Kesehatan Masyarakat. 2009.
Http://Jua dadman.com/wordpress-content/uploads/ Konsep Pelatihan.doc. 2009.
One.indoskripsi.com/node/9918/ Laporan Kuliah Kerja Nyata. 2007.
                                                                                                                           


LAMPIRAN-LAMPIRAN